Empat Tahun Lagi Ekonomi Cina Geser Amerika Serikat

Cina segera menggusur posisi Amerika Serikat (AS) sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Itu akan terjadi sekitar empat tahun lagi Baca Lagi ...

Sepanjang 2012, 129 ABG Diculik dan Diperkosa

JAKARTA - Maraknya aksi penculikan disertai kekerasan seksual pada anak membuat khawatir banyak pihak. Seiring perkembangan zaman, faktor teknologi Baca Lagi ...

Universitas Harvard Diguncang Skandal Nyontek

BOSTON - Perguruan tinggi pertama di Amerika, Universitas Harvard, hampir secara universal dianggap sebagai standar tertinggi dalam pendidikan Baca Lagi ...

Putus Cinta, Wanita Ini Potong Urat Nadi

BANDUNG – Fani (30), nyaris tewas setelah mencoba memotong urat nadi tangan kirinya di Jalan Balong Gede, Kecamatan Regol, Bandung, Sabtu Baca Lagi ...

"E-mail" Rahasia Ungkap Penguburan Osama

Sejumlah e-mail internal militer AS yang bersifat rahasia mengungkapkan bahwa jenazah Osama bin Laden dimandikan, dibungkus dengan kain Baca Lagi ...

20 Tahun Reformasi India

Kamis, 21 Juli 2011 | 21:29 WIB

Orang sudah banyak mendengar tentang reformasi ekonomi China yang dipelopori Deng Xiaoping. China saat ini menjadi kekuatan ekonomi besar yang cukup diperhitungkan.

Bagaimana dengan reformasi India yang juga kini menjadikan negara itu memiliki posisi ekonomi yang cukup kuat?

Ketika reformasi India diluncurkan 20 tahun lalu pada pekan ini, di negara itu tidak dapat dijumpai
Coca-Cola. Pemasangan telepon perlu waktu satu tahun dan hanya ada satu saluran televisi.

Bagi pemilik bengkel di New Delhi, Promod Bhasin (56), kehidupan sebelum revolusi finansial yang dimulai pada 24 Juli 1991, ketika tahun fiskal dimulai, sungguh amat berbeda. Dia terus menggelengkan kepalanya tanda tidak percaya atas semua perubahan.

"Untuk mendapatkan sambungan telepon di rumah saja perlu perjuangan berat," ujarnya. Pada beberapa dekade sebelum tahun 1991, India seolah menutup pintu terhadap semua investasi asing serta merek internasional. Negara itu berupaya memenuhi sendiri kebutuhannya berdasarkan ide sosialisme dan nasionalisme.

Hasilnya? Negara padat penduduk itu nyaris kolaps karena pertumbuhan ekonomi yang stagnan di bawah "Licence Raj", sebuah program ekonomi yang dikontrol pemerintah. Dalam program tersebut, pemerintah mengontrol semua aspek bisnis, mulai dari tenaga kerja hingga produksi.

"Barang dan jasa amat terbatas," ujar Bhasin, ayah dari dua anak berusia 23 dan 18 tahun. "Orang sampai memohon-mohon kalau ada keluarga yang pergi ke luar negeri untuk membelikan celana jins Levis dan perabotan elektronik," kenangnya.

"Saya tinggal di AS pada era 1970-an dan tahu bagaimana dunia di luar India. Di sini, 95 persen isi toko merupakan barang India dan hanya beberapa tempat tertentu yang menjual barang impor."

Bhasin mengatakan bagaimana orang India sulit sekali pergi ke luar negeri. Mereka dulu sulit menukarkan rupee dengan mata uang asing dan bank selalu mengecek transaksi valuta asing mereka. "Sekarang, kami bisa berlibur ke Malaysia atau Thailand tanpa rasa khawatir lagi," ujarnya.

Reformasi India mengangkat semua larangan terhadap investasi asing langsung. Deregulasi juga dilakukan, privatisasi diperbanyak, serta reformasi pajak pun dilakukan.

Bagi istri Promod, Minoo (46), mengenang India pada tahun 1980-an, penduduk di kota besar enggan berbelanja. "Saya saja harus membuat sendiri baju bayi karena baju yang dijual kualitasnya sangat buruk. Mainan juga tidak banyak tersedia. Sekarang, orang dapat membeli mainan dari segala penjuru dunia. Hal seperti itu tidak berubah dalam satu malam, memang lamban, tetapi segala sesuatu telah berubah saat ini," katanya.

Salah satu ikon produk India adalah Thums Up, minuman sejenis Coca-Cola dan Pepsi. Pabriknya dibeli Coca-Cola pada tahun 1993 ketika India mulai terbuka. Saat itu Thums Up merajai warung-warung di seantero India. "Kami minum Thums Up dan hanya ada sedikit mobil seperti merek Ambassador yang sekarang pun masih ada," kata Naresh Kambiri (78)

"Ada stasiun televisi pemerintah Doordarshan, tetapi tidak ada televisi swasta. Jangankan televisi berwarna, kalkulator juga tidak ada," katanya lagi. Seperti orang lain, perasaan Kambiri juga campur aduk menghadapi modernisasi India yang dicanangkan oleh Manmohan Singh, yang kemudian menjadi menteri keuangan dan saat ini menjadi Perdana Menteri India.

"Sekarang, pilihan lebih banyak, tetapi kami khawatir dengan sistem yang ada. Uang sekarang merupakan kekuatan dan korupsi semakin merajalela. Orang sekarang terobsesi dengan barang dari luar negeri hanya untuk pamer. Sebelumnya, kami mencari barang luar negeri karena memang memerlukannya," ujar Gurcharan Das, seorang pebisnis yang menulis buku laris India, Unbound, tentang transformasi India. "Tahun anggaran 1991 merupakan momen yang baik, seperti halnya kemerdekaan pada tahun 1947," ujarnya.

Sebelum tahun 1991, kami merasa bergidik jika pemerintah daerah menyuruh kami pergi ke Delhi. Semua harus ada izin dari pemerintah. Setelah 1991, kami dapat mendirikan bisnis kami sendiri. Bahkan orang miskin berpendapat, kehidupan mereka lebih baik dibandingkan dengan generasi sebelumnya," ujarnya lagi.

Hal yang mengecewakan adalah India gagal maju terus. "Singh lebih pengecut dibandingkan waktu lalu. Kami benar-benar memerlukan reformasi pemerintah, judisial, dan birokrasi," ujarnya lagi.



sumber : kompas

Berita Terkait



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar